.

Berita Terbaru

Berita dari Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

YOUTH LEADERSHIP CAMP FOR CLIMATE CHANGE 2017 “50 Pemuda Pilihan Dilatih Menjadi Pejuang Iklim” Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (24 – 26 Februari 2017)

YOUTH LEADERSHIP CAMP FOR CLIMATE CHANGE 2017 “50 Pemuda Pilihan Dilatih Menjadi Pejuang Iklim” Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (24 – 26 Februari 2017)

Perubahan iklim merupakan ancaman terbesar bagi kehidupan manusia, akan tetapi kesadaran akan dampak negatif perubahan iklim dalam berbagai aspek kehidupan manusia sangat terbatas. Hal ini terlihat dari gaya hidup masyarakat yang tidak ramah lingkungan, hanya berpikir pada tujuan jangka pendek dan mengesampingkan tujuan jangka panjang  yaitu menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam rangka mitigasi dampak perubahan iklim, dengan target kawula muda yang merupakan generasi penerus bangsa dan merupakan pihak yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Para pemuda diharapkan menjadi “agen” dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan pencegahan perubahan iklim. Mereka harus berada di garis depan dalam gerakan untuk memecahkan masalah perubahan iklim. Dengan pengetahuan yang komprehensif dan luas mengenai perubahan iklim, generasi muda dapat mengubah kebiasaan hidupnya dan mengurangi emisi karbon, yang merupakan pemicu utama terjadinya perubahan iklim.

Kantor UNESCO Jakarta, UN CC:Learn (The One UN Climate Change Learning Partnership) melalui UNITAR (United Nations Institute for Training and Research), bekerjasama dengan The Climate Reality Project Indonesia (TCRPI) telah mengadakan “Youth Leadership Camp for Climate Change 2017” sebagai bagian dari pelaksanaan fase kedua UN CC:Learn proyek Strengthening Human Resources, Learning and Skills Development to Address Climate Change dengan dukungan dari Pemerintah Swiss dan mitra Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pelatihan ini  berlangsung selama 3 hari sejak hari Jumat hingga Minggu tanggal 24 – 26 Februari 2017 di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Pelatihan dengan peserta 50 pemuda/i terpilih ini bertujuan untuk membekali peserta dengan informasi tentang perubahan iklim, gaya hidup yang harus dilakukan agar lebih rendah karbon, dan keterampilan komunikasi untuk mendukung aksi pengendalian perubahan iklim.

Setelah pelatihan, peserta akan dikukuhkan menjadi Pejuang Iklim dan diwajibkan untuk menerapkan aksi pengendalian perubahan iklim secara langsung di lingkungan sekitarnya. Peserta terbaik akan disponsori oleh UN CC:Learn untuk mengikuti “Tribal Climate Camp 2017” di Amerika Serikat pada tanggal 31 Juli-4 Agustus 2017 yang akan diikuti pemuda/i, kaum profesional pegiat perubahan iklim dan masyarakat adat dari Amerika Serikat dan Kanada.

Pada hari pertama pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 24 Februari 2017, para peserta diberikan materi pembekalan dari berbagai nara sumber mengenai perubahan iklim, antara lain :

1.      Prof. Shahbaz Khan, Director of UNESCO Regional Science Bureau for Asia and the Pacific menyatakan bahwa UNESCO mendukung pelibatan pemuda-pemudi dunia termasuk Indonesia untuk menjadi penggiat perubahan iklim, salah satunya dengan turut menjaga kelestarian alam dan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar. “Indonesia sudah memiliki 11 Cagar Biosfer, 4 Warisan Alam Dunia, 2 Taman Bumi (Geopark) dan daftar ini dapat terus bertambah mengingat kekayaan ekosistem yang dimiliki Indonesia. Pemuda-pemudi Indonesia adalah generasi harapan kami untuk dapat meneruskan upaya pelestarian alam dan upaya adaptasi dalam mendukung Agenda 2030 guna mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG)“

2.      Amanda Katili Niode, Manager The Climate Reality Project Indonesia, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi pemuda Indonesia untuk mendalami isu perubahan iklim sekaligus belajar bagaimana komunikasi pada masyarakat. “Pemuda Indonesia merupakan segmen penduduk yang sesuai sekali untuk menjadi pelopor di masyarakat. Mereka punya semangat membara untuk jadi agen perubahan dan punya kemampuan teknologi informasi yang relatif tinggi. Kita harus wadahi itu”

3.      Cristina Rekakavas, UN CC:Learn Secretariat, menyampaikan selamat kepada seluruh mahasiswa dan pemuda/i atas partisipasinya dalam acara ini. Acara ini berkontribusi terhadap pelaksanaan National Climate Change Learning Strategy of Indonesia, yang diluncurkan pemerintah Indonesia pada tahun 2013. "Pembinaan pemuda/i merupakan investasi yang penting untuk dilakukan guna dapat mewujudkan masa depan yang berkelanjutan. Upaya tersebut diimplementasikan melalui UN CC:Learn Partnership yang mendukung penuh pemuda/i seluruh dunia untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengatasi perubahan iklim, menghadapi tantangan dan menjajagi kesempatan yang tersedia. Pemuda/i merupakan pemimpin, pengambil keputusan dan konsumen di hari esok. Jadi, mulailah dari sekarang dengan menularkan antusiasme kalian dan berpikir kreatif!"

4.      Murni Titi Resdiana, Assistant to the President’s Special Envoy on Climate Change, menyampaikan materi tentang penghitungan “karbon yang dikeluarkan akibat aktifitas manusia sehari – hari”. Hal ini untuk memperluas wawasan para peserta mengenai aktifitas – aktifitas yang menyebabkan emisi karbon, sehingga dalam kehidupan berupaya menghindari aktifitas yang dapat meningkat emisi karbon.

5.      Lia Zakiah, Deputy to Assistant to President’s Special Envoy on Climate Change, menyampaikan materi tentang Cara Mengkomunikasikan Isu Perubahan Iklim,  pada masyarakat dan orang terdekat kita. Para peserta diharapkan dapat menjadi “agen perubahan” dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

6.      Ray Nayoan, Yayasan Pelabuhan Mimpi, merupakan seorang praktisi pembuat film. Materi yang disampaikan adalah Cara Mengkampanyekan Isu Perubahan Iklim Melalui Film Pendek. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta memiliki kemampuan menyampaikan isu perubahan iklim melalui film pendek, dengan dipandu oleh Narasumber.

 

Hari kedua pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 25 Februari 2017, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Narasumber pada hari kedua ini antara lain :

1.      Trita Katriana, National Project Officer for Water and Environment Science at Unesco Office Jakarta. Menyampaikan materi tentang UNESCO SITES  Sebagai Model Dalam Mitigasi Dan Adaptasi Perubahan Iklim. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah salah satu UNESCO SITES dan telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia “Tropical Rainforest Heritage of Sumatera” bersama Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Kerinci Seblat.

2.      Ir. Timbul Batubara, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Menyampaikan materi mengenai Pengenalan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada para peserta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Manager of The Climate Reality Project Indonesia (Amanda Katili Niode) dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Timbul Batubara) bersama para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kunjungan Lapangan Para Peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017

 

 

Para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 melakukan kunjungan lapangan ke Taman Nasioanl Bukit Barisan Selatan, untuk melihat destinasi wisata yang ada di TNBBS Resort Sukaraja Atas SPTN Wilayah I Sukaraja BPTN Wilayah I Semaka, antara lain Wisata Air Terjun Tugu Raflesia; Wisata Track Rhino Camp; Wisata Plot Pengamatan Tarsius Bancanicus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      Wisata Track Rhino Camp

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                        Wisata Air Terjun Tugu Raflesia

 

 

 

Selain mengunjungi destinasi wisata yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Para peserta Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan melakukan kegiatan pelepas liaran satwa, terdiri dari 2 ekor Kukang (Nycticebus coucang) dan 2 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), berasal dari satwa sitaan BKSDA Bengkulu Lampung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan kunjungan lapangan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 diakhiri dengan penanaman pohon jenis Cempaka (Magnolia champaca) di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari terakhir pelaksanaan Youth Leadership Camp for Climate Change 2017 tanggal 26 Februari 2017, peserta juga mendapatkan workshop tentang pembuatan film. Ray Nayoan, sineas muda Indonesia yang beberapa kali memproduksi film tentang perubahan iklim menyatakan bahwa perubahan iklim itu isu yang kompleks, sangat menantang untuk disampaikan melalui film. Ray yang menjadi salah satu trainer dalam camp tersebut menambahkan, “namun jika berhasil mengemas dengan baik, hasilnya adalah masyarakat jadi lebih mudah mencerna dan harapannya mereka mau mengubah gaya hidupnya menjadi lebih rendah karbon. (BBTNBBS, 2017)

Actions: E-mail | Permalink |

Post Rating